Jumat, 20 Januari 2017

MAKALAH TASAWUF DI INDONESIA



TASAWUF DI INDONESIA


A.     SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DI INDONESIA
Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi.
Berdirinya kerajaan Islam Pasai menjadi titik sentral penyiaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara Pulau Jawa. Di daerah Minangkabau tokoh yang sangat berjasa dalam mengupayakan penyebaran Islam adalah Syekh Burhanuddin Ulakan murid Syekh Abd Rauf Singkel seorang tokoh sufi yang tersohor. Dari didikan Syekh Burhanuddin Ulakan ini lahir ulama-ulama besar seperti Tuanku Nan Renceh, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Pasaman dan lain-lain.
Penyebaran Islam ke Pulau Jawa juga berasal dari kerajaan Pasai, terutama berkat jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak, dan Ibrahim Asmoro yang ketiganya adalah abituren Pasai. Karena kegigihan dan keuletan mereka maka lahirlah kerajaan Islam di Jawa yaitu Kerajaan Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah.
Perkembangan Islam di Pulau Jawa kemudian digerakkan oleh Wali Sanga. Sebutan tersebut sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada derajat “wali”. Para wali selain sebagai penyebar agama Islam juga sangat besar pengaruhnya dalam kekuasaan kesultanan. Dengan kedekatan secara politis dengan penguasa membantu memudahkan dalam menyebarkan agama Islam sesuai dengan penghayatan sufisme yang mereka anut.
Dalam dunia pesantren generasi awal, sufisme sangat kental di kalangan para santri. Aliran sufisme yang mendominasi kala itu adalah aliran Al-Gazali, dalam kelompok ini kitab-kitab karangan Al-Ghazali menjadi sumber bacaan yang paling digemari dan Al-Ghazali secara keseluruhan adalah beraliran tasawuf sunni.
Dari kedekatan para wali dengan penguasa keraton membuat penyebaran agama juga melibatkan orang-orang keraton. Dari hal tersebut menyebabkan terjadi akulturasi sufisme dengan kepercayaan lama dan tradisi lokal, yang berakibat bergesernya nilai keislaman sufisme karena tergantikan oleh model spiritual non Islam. Hal serupa juga dialami di dunia pesantren, dengan masuknya kolonial Belanda menyebabkan pendidikan pesantren tidak luput dari invasi yaitu pendidikan sekuler yang berasal dari Eropa.
Karena faktor-faktor tersebut kehidupan sufisme di Indonesia sudah bergeser dari garis lurus yang diletakkan sufi terdahulu menjadi warna kejawennya.  Walau demikian sufisme tetap berakar kuat pada corak Islam di Indonesia hingga kini.

B.      TOKOH-TOKOH TASAWUF DI INDONESIA DAN AJARAN-AJARANNYA
1.         Hamzah Fansuri
a)        Riwayat Hidup Hamzah Fansuri
Syekh Hamzah Fansuri di kenal sebagai seorang pujangga Islam yang sangat populer dalam kesusastraan Melayu dan Indonesia. Meskipun kebesaran nama beliau di akui oleh para ahli, namun tahun dan tempat kelahiran beliau belum di ketahui.
Kata “Fansur” yang menempel pada namanya sebagian peneliti beranggapan beliau berasal dari daerah Fansur, sebutan oleh orang Arab kepada daerah yang bernama Barus yang sekarang kota kecil di pantai barat Sumatera Utara.
Orang banyak menyanggah Al-Fansuri karena ajaran wihdatul wujud, hulul, ittihad-nya mengikuti faham Al-Hallaj sehingga di anggap sebagai zindiq, sesat, dan kafir.
Dalam kesusastraan Melayu dan Indonesia karya-karya beliau tercatat dalam buku-buku syair antara lain Syair Burung Pingai, Syair Dagang, Syair Pungguk, Syair Sidang Faqir, Syair Ikan Tongkol, dan Syair Perahu.  Dan menurut para ahli berdasar syair-syair beliau, Hamzah Fansuri dalam mengembangkan tasawufnya hingga sampai seluruh Semenanjung, di Negeri Perak, Perlis, Kelantan, Trengganu dan lain-lain.
b)       Ajaran Tasawuf Hamzah Fansuri
Pemikiran Al-Fansuri banyak di pengaruhi oleh Ibn Arabi dalam Wahdat al-Wujud-nya. Ia mengajarkan bahwa Tuhan lebih dekat daripada leher manusia sendiri dan Tuhan tidak bertempat. Ia memahami ayat Al-Qur’an “Di mana kamu hadapkan wajahmu di situ ada wajah Tuhan.” Wajah Tuhan di tafsirkan sebagai sifat-sifat Tuhan seperti Pengasih, Penyayang, Jalal, dan Jamal. Oleh sebab itu ia menolak perkataan Abu Yazid Al-Bustami yang mengatakan bahwa Tuhan berada di dalam jubahnya.




2.         NURUDDIN Ar-RANIRI
a)        Riwayat Hidup Nuruddin Ar-Raniri
Nuruddin Ar-Raniri lahir di kota Ranir Pantai Gujarat, India. Tahun kelahirannya tidak di ketahui tetapi banyak ahli yang memperkirakan ia lahir di akhir abad 16. Guru yang paling berpengaruh adalah Abu Nafs Sayyid Imam bin ‘Abdullah bin Syaiban, seorang guru Tarekat Rifa’iyah.
Ar-Raniri merupakan tokoh pembaharuan Islam di Aceh. Pembaharuan utamanya adalah memerangi aliran Wujudiyyah yang dianggap aliran sesat.
Karya-karya beliau antara lain Ash-Shirath Al-Mustaqim, Bustan As-Salatin fi DzikirAl-Awwalin wa Al-Akhirin, Durrat Al-Farra’idh bi Syarhi Al’Aqa’id, Syifa Al-Qulub.
b)       Ajaran Tasawuf Ar-Raniri
Mengenai ketuhanan, Ar-Raniri berupaya menyatukan paham Mutakallimin dengan paham para sufi yang diwakili oleh Ibn Arabi. Ia berpendapat ungkapan “wujud Allah dan Alam Esa” berarti alam ini merupakan sisi lahir dari hakikat batin yaitu Allah SWT sebagaimana yang dimaksud Ibn Arabi. Tetapi hakikatnya alam ini tidak ada yang ada adalah wujud Allah Yang Esa. Jadi ia berpendapat bahwa alam ini tidak bisa dikatakan berbeda dengan Allah atau bersatu dengan Allah, alam ini merupakan tajalli Allah SWT.
Ar-Raniri berpandangan alam ini diciptakan melalui tajalli, ia menolak ajaran Al-Farabi tentang emanasi karena membawa pada pengakuan alam ini qadim hingga dapat jatuh pada kemusyrikan.
Ajaran Wujudiyyah menurutnya Ar-Raniri berpusat pada Wahdat Al-Wujud yang di salah artikan oleh kaum Wujudiyyah dengan arti kemanunggalan Allah SWT.  Menurutnya, ajaran Hamzah Al-Fansuri tentang wahdat Al-wujud  dapat membawa kepada kekafiran. Jika Tuhan dan makhluk itu satu maka dapat di artikan Tuhan adalah makhluk dan makhluk adalah Tuhan. Semua perbuatan manusia tentang baik dan buruk berarti Tuhan juga melakukannya.

3.         SYEKH ABDUR RAUF As-SINKILI
a)        Riwayat Hidup Abdur Rauf As-Sinkili
Abdur Rauf As-Sinkili merupakan ulama dan mufti besar kerajaan Aceh abad ke-7 (1606-1637 M). Ayahnya berasal dari Persia yang datang ke Samudera Pasai menetap di Fansur, Barus. Pendidikan Abdur Rauf As-Sinkili di dapat dari ayahnya di Simpang Kanan (Sinkil). Dari ayahnya ia menguasai banyak ilmu agama, sejarah, dan bahasa. Menurut para ahli, Abdur Rauf As-Sinkili di akui memang mempunyai silsilah bersambung dari gurunya hingga kepada Nabi Muhammad SAW.
Di antara karya-karya beliau antara lain Mir’at Ath-Thullab, Hidayat Al-Balighah, ‘Umdat Al-Muhtajin, Syams Al-Ma’rifat, Kifayat Al-Muhtajin, Turjuman Al-Mustafidh, dll.
b)       Ajaran tasawuf Abdur Rauf As-Sinkili
Ajaran tasawuf Abdur Rauf As-Sinkili sama dengan Syamsudin dan Nuruddin, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yaitu Allah SWT., sedangkan alam merupakan bayangan dari yang hakiki. Sehingga bayangan memiliki keserupaan sifat dari yang memancarkan. Sifat-sifat manusia adalah bayangan dari sifat-sifat Allah SWT., seperti hidup, tahu, dan melihat.
Ajaran tasawuf As-Sinkili yang lain mengenai martabat perwujudan Tuhan. Menurutnya ada tiga martabat perwujudan tuhan. Pertama, martabat la ta’ayyun yaitu alam masih berupa hakikat gaib dalam ilmu Tuhan. Kedua, martabat ta’ayyun awwal yaitu adanya potensi terciptanya alam. Ketiga, martabat ta’ayyun tsani,  dari sinilah alam tercipta. Syair Ibn Arabi tentang “Aku Engkau, Kami Engkau, Engkau Ia” hanya benar pada ta’ayyun awwal. Sedang dalam ta’ayyun tsani alam sudah memiliki sifat tersendiri tapi merupakan cerminan dari sifat Tuhan.

4.         SYEKH YUSUF AL MAKASARI
a)        Riwayat Hidup Shekh Yusuf Al Makasari
Syekh Yusuf Al Makasari merupakan tokoh sufi dari Sulawesi. Lahir pada 8 Syawal 1036 H atau 3 Juli 1629 M. Dalam relatif singkat ia mampu mempelajari Al-Qur’an 30 juz dan mungkintermasuk penghapal, setelah itu dilanjutkan ke ilmu-ilmu yang lain seperti nahwu, sharaf, bayan, balaghah, mantiq, fikih, ilmu ushuluddin dan tasawuf.
b)       Ajaran Tasawuf Syekh Yusuf Al Makasari
Syekh Yusuf Al Makasari mengungkapkan tentang paradigma sufistiknya berasal dua aspek, yaitu lahir (syari’at) dan batin (hakikat) yang harus di pandang dan diamalkan secara bersamaan.
Pandangannya sama dengan Wahdatul Al-Wujud dalam filsafat Ibnu Arabi. Ia meyakini bahwa Tuhan melingkupi segala sesuatu dan selalu dekat dengan sesuatu. Syekh Yusuf mengembangkan istilah al-ihathah (peliputan) dan al-ma’iyyah (kesertaan). Maksudnya Tuhan turun (tanazul) sementara manusia naik (taraqi), proses spiritual yang membuat keduanya dekat. Proses ini menurutnya tidak akan mengambil bentuk kesatuan wujud antara manusia dan Tuhan.
Syekh Yusuf berpendapat tentang Insan Kamil dan proses penyucian jiwa. Menurutnya manusia akan tetap manusia walau sudah naik derajat dan Tuhan tetap Tuhan walau telah turun ke diri hamba. Mengenai menyucian jiwa, ia menempuh dengan jalan moderat yaitu bahwa dunia ini tidak untuk di tinggalkan dan mematikan hawa nafsu. Hidup di arahkan untuk menuju Tuhan dan hawa nafsu di kendalikan dengan tertib hidup dan disiplin atas orientasi ketuhanan.

5.         SYEKH NAWAWI AL-BANTANI
a)        Riwayat Hidup Syekh Nawawi Al-Bantani
1230-1314 H / 1815- 1897 M Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab beliau melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw.
Semenjak kecil beliau memang terkenal cerdas. Beliau mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.
Di usia beliau yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Pada usia 15 tahun beliau menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter beliau terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Madinah.
Di antara buku yang ditulisnya dan mu’tabar (diakui secara luas–Red) seperti Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, Tafsir Al-Munir, Tanqih Al-Qoul, Fath Majid, Sullam Munajah, Nihayah Zein, Salalim Al-Fudhala, Bidayah Al-Hidayah, Al-Ibriz Al-Daani, Bugyah Al-Awwam, Futuhus Samad, dan al-Aqdhu Tsamin. Sebagian karyanya tersebut juga diterbitkan di Timur Tengah.
b)       Ajaran Tasawuf Syekh Nawawi Al-Bantani
Dalam bidang tasawuf ia memiliki konsep yang identik dengan tasawuf ortodok.
Pandangan tasawufnya meski tidak tergantung pada gurunya Syekh Khatib Sambas, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat, bahkan tidak ikut menjadi anggota tarekat, namun ia memiliki pandangan bahwa keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat adalah hasil dari syariat dan tarikat. Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hat yang bertentangan dengan ajaran Islam, syariat.
Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-teman yang digunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. la dapat dimakzulkan (dibedakan) dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

6.         HAMKA
a)        Riwayat Hidup Hamka
Hamka, atau nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia pada 17 Februari 1908 - 24 Julai 1981) adalah seorang penulis dan ulama terkenal Indonesia.
Ayahnya ialah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau.
Beliau banyak menghabiskan masanya dengan membaca buku falsafah,sastera,sejarah,dan politik.Hamka juga menyelidiki karya-karya Arab dan Barat yang diterjemahkan ke bahasa Arab seperti Karl Marx dan Arnold Toynbee.
Beliau melibatkan diri dengan pertubuhan Muhammadiyah dan menyertai cawangannya dan dilantik menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah.Beliau melancarkan penentangan terhadap khurafat,bida'ah,thorikoh kebatinan yang menular di Indonesia.Oleh itu,beliau mengambil inisiatif untuk mendirikan pusat latihan dakwah Muhammadiyah.
b)       Ajaran Tasawuf Hamka
Sebagai realisasi dari upayanya memurnikan kembali ajaran tasawuf, Hamka menulis beberapa karya yang berkenaan dengan tasawuf.
Berikut ini dikemukakan beberapa pokok pikirannya, sebagaimana yang terdapat dalam bukunya, Tasauf Moderen.
1)        Tentang Harta Benda dan Kekayaan
Untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan, seorang sufi harus menempuh beberapa tahap, antara lain al-zuhd dan al-faqr. Untuk tahap pertama, seseorang harus mengabaikan kehidupan duniawi, sebab dunia dengan segala kehidupan materialnya adalah sumber kemaksiatan dan penyebab terjadinya segala kejahatan yang menimbulkan kerusakan dan dosa. Sedangkan tahap kedua, seseorang harus bersikap tidak memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu, tidak menuntut lebih dari apa yang telah dimiliki, atau melebihi dari kebutuhan primer.
Bagi Hamka, harta benda sangat perlu dalam melakukan pendekatan kepada Tuhan. Banyak kejadian orang yang suci hatinya, tinggi maksudnya ingin berbuat baik kepada orang lain, tetapi cita-citanya itu terhalang karena tidak memiliki harta yang memadai. Bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki pakaian untuk dipakai beribadah, atau dapat membayar zakat dan naik haji, jika ia tidak memiliki harta.
Namun demikian, Hamka menggarisbawahi bahwa orang yang sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya. Sebaliknya, orang yang paling banyak keperluannya, itulah orang yang paling miskin. Jadi, pada hakekatnya, kekayaan dan kemiskinan itu tergantung pada kebutuhan dan ketenteraman hati seseorang.   
2)        Al-Qana’ah
Qana’ah ialah menerima dengan cukup. Maksudnya, seseorang harus memagar apa yang dimilikinya dan tidak menjalar pikirannya kepada apa yang dimiliki oleh orang lain.
Bukanlah qana’ah jika menerima apa adanya dan tidak mau berusaha lagi, melemahkan hati, memalaskan pikiran, serta mengajak berpangku tangan. Akan tetapi, qana’ah adalah modal yang paling teguh untuk menghadapi kesungguhan hidup untuk mencari rezki yang halal.
3)        Tawakkal 
Dalam kehidupan sufi, tawakkal adalah, selain menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, juga tidak meminta, tidak menolak dan tidak menduga-duga. Nasib apapun yang diterima, itu adalah karunia dari Tuhan. Menurut mereka, sikap ini akan berimplikasi pada keadaan jiwa yang tenang, berani, dan ikhlas dalam menalani hidupnya.
Bagi Hamka, makna tawakkal adalah penyerahan diri kepada Tuhan tanpa terlepas dari hukum alam-Nya (sunnatullah). Sebagai contoh, sebelum keluar rumah, pintu dikunci sambil bertawakkal kepada Tuhan. Sebaliknya, bukanlah tawakkal jika seseorang yang duduk di bawah dinding yang hendak runtuh.
Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengutip sebuah riwayat yang pernah terjadi di zaman Rasulullah. Seorang Arab Badwi yang datang menghadap kepada beliau tanpa mengikat ontanya, dengan dasar tawakkal kepada Tuhan. Rasulullah menyanggah perbuatan orang tersebut sambil bersabda: “Ikatlah dahulu ontamu barulah bertawakkal”.

C.        KESIMPULAN
Perkembangan tasawuf di Indonesia berkaitan erat dengan proses islamisasi di kawasan Nusantara. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar penyebaran Islam di Nusantara merupakan jasa para sufi.
Adapun tokoh-tokoh sufi yang sangat berpengaruh di Indonesia adalah Hamzah Fansuri, al-Raniri, Abd. Rauf Sinkel, Abd Shamad al-Palembani, Sheh Yusuf al-Makassari, Nawawi al-Bantani, dan Hamka.
Dari tokoh-tokoh tersebut di atas Islam di Indonesia berkembang dan dapat di terima oleh masyarakat bangsa Indonesia, walau tidak bisa di pungkiri ada perbedaan dan pertentangan di antara ajaran seorang sufi yang satu dengan tokoh sufi yang lain.




DAFTAR PUSTAKA

______. 1997. Ensiklopedia Islam. Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve.
Anwar, Rasihon. 2010. Akhlak Tasawu. Bandung: Pustaka Setia
http://www.referensimakalah.com/2011/10/kontribusi-pemikiran-hamka-terhadap_4027.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar