Selasa, 04 Desember 2012

Kritik Novel

KRITIK NOVEL
“BUMI SRIWIJAYA”
Karya : Bagus Dilla
 
 
 
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi sejarang. Ungkapan itu tepat kiranya jika ditujukan kepada Bagus Dilla atas buah karyanya berupa buku bernuansa sejarah yang dituangkan dalam bentuk novel berjudul “Bumi Sriwijaya”.
Jika dilihat dari latar belakang penulis yang lulusan pesantren, menunjukkan keluasan wawasan dari penulis. Bagaimana tidak, Kerajaan Sriwijaya yang berlatar belakang agama Hindu-Budha dapat disuguhkan dengan luwes oleh penulis yang berlatar belakang pesantren (Islam .red). Bahasanya sangat bagus apalagi dipadukan dengan istilah-istilah dalam bahasa pallawa.
Secara singkat novel ini bercerita tentang awal mula kerajaan Sriwijaya yang dimulai oleh kerajaan kecil bernama kerajaan Langkapura ( Pulau berawa di dekat Palembang ) dengan rajanya Raja Angsuman. Dalam perkembangannya kerajaan Langkapura berubah menjadi kerajaan Amartapura setelah kepemimpinan berada di Raja Muda Wiryacarya anak dari Raja Angsuman. Di tangan Sri Paduka Maharaja Jagadhita (gelar Raja Muda Wiryacarya) kerajaan Amartapura berkembang pesat hingga seluruh bumi Samantara (Sumatera). Sedangkan nama Sriwijaya baru dipakai setelah Yuwaraja Dapunta (anak Maharaja Jagadhita denga Putri Niah) naik menjadi putra mahkota. Arti Sriwijaya itu sendiri adalah Sri berarti sinar atau cahaya dan wujaya berarti terang, cemerlang atau gemilang. Maksunya menjadikan Bumi Samantara berjaya di bawah kekuasaan Sriwijaya.
Di dalam kata pengantar penulis yang  mengatakan “...lebih mementingkan isi daripada bentuk.” maka ini lah yang saya ingin kritisi. Menurut saya novel berjudul Bumi Sriwijaya isinya tidak menggambarkan secara utuh mengenai Bumi Sriwijaya itu. Sebagaimana kita ketahui bahwa Sriwijaya merupakan imperium besar di Nusantara yang membuatnya disegani di seluruh dunia, luasnya daerah kekuasaan hampir seluruh Nusantara dan raja-raja yang amat perkasa. Namun dalam novel ini hanya disuguhkan mengenai cikal bakalnya saja, nama Sriwijiaya baru disebut dalam pertengahan novel dan itu juga hanya dalam ungkapan cita-cita. Dan dalam novel ini lebih menitik beratkan pada sepak terjang Maharaja Jagadhita. Maka menurut saya ini belum menjelaskan “Bumi Sriwijaya” secara utuh.
Dalam akhir cerita, pembaca hanya disuguhi tentang pertarungan perebutan kekuasaan antara Dapunta sebagai pewaris tahta secara sah dengan saudaranya Rajakumara yang merasa tidak terima dengan pengukuhan Dapunta sebagai putra mahkota, pertarungan ini dimenangkan oleh Dapunta. Tidak diceritakan lagi bagaimana sepak terjang Dapunta dalam memerintah di bumi Samantara. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa istilah Sriwijaya dinisbahkan kepada Putra Mahkota Dapunta maka akan lebih baik jika Bumi Sriwijaya juga menceritakan tentang sepak terjang Dapunta setelah benar-benar menjadi raja di Sriwijaya. Kesesuaian judul dengan isi novel akan lebih menjadikan novel ini berbobot.

Dalam penulisan ceritanya, penulis (Bagus Dilla) juga melakukan keteledoran. Semisal pada Bab 57. Puncak Himalaya; Dapunta dalam perjalanan mencari bunga cempaka ungu di puncak Himalaya atas permintaan Putri Sobakancana. Di Halaman 361, pada paragraf 5, ada raksasa mengendap-endap memperhatikannya. Paragraf 6, raksasa berkata “....Aku dapat memakan dagingnya. Hmm...pasti enak dan menggairahkan...” dan gumaman yang lain dari sang raksasa dijelaskan di paragraf selanjutnya. Tentu gumaman sang raksasa ditujukan kepada pembaca untuk menggambarkan mencekamnya suasana kala itu. Dapunta pun bertarung mempertahankan diri dari serangan raksasa. Pada halaman 364 dijelaskan setelah pertarungan sengit raksasa berubah wujud menjadi manusia bertangan empat dan ternyata ia adalah jelmaan dari Bathara Brahma. Masih di halaman yang sama Brahma berkata “...Aku sudah mengetahui kedatanganmu, Anakku.”
Inilah yang membuat aneh dan lucu, karena pembaca disuguhkan tentang keinginan sang raksasa (jelmaan Brahma) untuk memakan Dapunta tetapi hal itu disangkal dengan dialog di halaman 364, pembaca disuguhi percakapan Dapunta dengan Brahma bahwa sang Batara sudah mengetahui kedatangannya. Kalau memang sudah tahu (kedatangan Dapunta), kenapa pembaca disuguhi keinginan sang Batara memakan Dapunta?
Akan lebih luwes jika disaat Dapunta melakukan tapa bratha, tiba-tiba diserang oleh raksasa tanpa perlu ditulis keinginan raksasa untuk memakannya (karena tulisan ini sesungguhnya ditujukan kepada pembaca untuk menggambarkan betapa mencekamnya suasana kala itu). Setelah terjadi pertarungan sengit akhirnya sang raksasa berubah menjadi Batara Brahma. Karena pertarungan itu hanya bersifat menguji Dapunta. Sehingga tidak terjadi kontra di dalam cerita itu.
  
***
Memang tidak diragukan lagi tentang kepandaian sang penulis dalam pemilihan kata-kata dalam menyusun cerita, akan tetapi ketelitian dalam alur cerita juga akan berpengaruh besar pada isi cerita walau tidak mengubah makna cerita yang sesungguhnya. Jangan sampai pembaca yang sudah larut dalam emosi cerita tiba-tiba menjadi hilang karena cerita menjadi konyol.
 
Demikian tanggapan atas Novel Bumi Sriwijaya ini saya buat guna tambahan wawasan dan tanpa maksud menggurui dan merasa benar. Hal seperti ini tentu sudah biasa di kalangan sastra demi perkembangan kesusastraan Indonesia
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar