Minggu, 15 Mei 2016

MAKALAH “Kedudukan dan Fungsi Evaluasi dalam Pendidikan Islam”



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
       Dalam proses pendidikan Islam, tujuan merupakan sasaran ideal yang hendak dicapai dalam program dan proses dari produk kependidikan Islam atau output kependidikan Islam.
       Dengan memperhatikan kekhususan tugas pendidikan Islam yang meletakkan faktor pengembangan faktor anak didik, nilai-nilai agama dijadikan landasan kepribadian anak didik yang dibentuk melalui proses itu maka idealitas Islam yang telah terbentuk dan menjiwai pribadi anak didik tidak dapat diketahui oleh pendidik muslim tanpa melalui proses evaluasi. Dengan kata lain penilaian atau evaluasi digunakan sebagai alat untuk menentukan suatu tujuan pendidikan dicapai atau tidak. Atau untuk melihat sejauhmana hasil belajar siswa sudah mencapai tujuannya.[1] )
       Dalam pendidikan Islam evaluasi merupakan salah satu komponen dari sistem pendidikan Islam yang harus dilakukan secara sistematis dan terencana sebagai alat untuk mengukur keberhasilan atau target yang akan dicapai dalam proses pendidikan Islam dan proses pembelajaran. Dalam makalah ini akan penulis sajikan hal-hal yang menyangkut evaluasi pendidikan Islam yaitu kedudukan dan fungsi evaluasi pendidikan Islam secara sederhana dan singkat, mengingat kami kesulitan dalam mencari referensi buku maupun alamat web yang membahas secara gamblang tentang bahasan tersebut.

B.       Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam itu?
2.         Bagaimana kedudukan evaluasi dalam pendidikan Islam?
3.         Apa saja fungsi evaluasi dalam pendidikan Islam?





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Evaluasi
       Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan.[2]) Oemar Hamalik mengartikan evaluasi sebagai proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran.[3]) Sementara Abudin Nata menyatakan bahwa evaluasi sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu dalam rangka mendapatkan informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka membuat keputusan.[4]) Adapun M. Chabib Thoha, mengutarakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.[5])
       Dari beberapa pendapat, dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi yaitu suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu yang terencana, sistematik dan berdasarkan tujuan yang jelas.
       Jika kata evaluasi dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, untuk itu evaluasi pendidikan sebenarnya tidak hanya menilai tentang hasil belajar siswa tersebut, seperti evaluasi terhadap guru, kurikulum, metode, sarana prasarana, lingkungan dan sebagainya.
       Dalam evaluasi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai kegiatan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Dengan pelaksanaan evaluasi ini bukan hanya pendidik juga keseluruhan aspek/unsur pendidikan Islam.
        Di dalam Al-Qur’an sistem evaluasi dapat dilihat dari ayat berikut ini :
 




Artinya : “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah  berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
QS. Al-Baqarah : 155)[6])

       Dari ayat di atas diperoleh sebuah pengertian bahwa Allah SWT mengevaluasi (menguji) sejauh mana kadar keimanan dari hamba-Nya. Kemudian setelah di evaluasi Allah menetapkan derajat kemuliaan dari hamba-Nya. Dengan demikian hakikat evaluasi dari Allah adalah mendidik agar hambanya sadar terhadap tugas yang diberikan yaitu semata-mata menghambakan diri kepada-Nya. Namun dari penjelasan ayat di atas diketahui bahwa sistem evaluasi oleh Allah SWT tentu berbeda dengan evaluasi yang terjadi pada pendidikan modern saat ini. Evaluasi dari Allah lebih menitikberatkan pada sikap, perasaan, dan pengetahuan manusia tentang keimanan dan ketakwaan. Begitu pula evaluasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penerima perintah wahyu, maka evaluasi lebih di tekankan pada sikap dari kaum mukminin. Apakah kaum mukminin mau melaksanakan ajaran-Nya atau ingkar, disini lebih mengedepankan aspek psikomotorik. Dengan kata lain bahwa evaluasi dari Tuhan dan Rasul-Nya lebih bersifat kualitatif. Sedangkan pendidikan modern, evaluasi juga menggunakan sistem kuantitatif atau angka-angka.




B.       Kedudukan Evaluasi
       Kedudukan evaluasi dalam belajar dan pembelajaran sungguh sangat penting, dan bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan keseluruhan proses  belajar dan pembelajaran. Penting karena dengan evaluasi diketahui apakah belajar dan  pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan ataukah belum. Dengan evaluasi juga akan diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tersebut berhasil dan faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan  pembelajaran tidak atau belum berhasil. Tidak hanya itu, dengan evaluasi juga diketahui dimanakah letak kegagalan dan kesuksesan belajar dan pembelajaran. Ajaran Islam juga menaruh perhatian yang besar terhadap evaluasi tersebut. Allah SWT, dalam berbagai firman-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an memberitahukan kepada kita, bahwa pekerjaan evaluasi terhadap manusia didik adalah merupakan suatu tugas penting dalam rangkaian proses pendidikan yang telah dilaksanakan oleh pendidik.[7])
       Menurut M Chabib Thoha ada tiga alasan diperlukannnya evaluasi dalam dunia pendidikan termasuk pendidikan agama Islam:[8])
1.         Terdapat hubungan interdependensi antara tujuan pendidikan, proses belajar mengajar, dan prosedur evaluasi. Tujuan pendidikan akan mengarahkan bagaimana pelaksanaan prosedur belajar mengajar seharusnya dilaksanakan, sekligus merupakan kerangka acuan untuk melaksanakan evluasi hasil belajar.
2.         Kegiatan mengevaluasi terhadap hasil belajar merupakan  salah satu pendidik professional. Suatu pekerjaan dipandang professional bila pekerjaan tersebut memerlukan pendidikan  yang lebih lanjut (advance education) dan latihan khusus (special training).
3.         Bila dilihat dari pendekatan kelembagaan, kegiatan pendidikan adalah merupakan kegiatan manajemen, yang meliputi kegiatan Planning, Programming, Organizing, Actuating, Controlling dan Evaluating





C.      Fungsi Evaluasi
       Menurut Omar Hamalik, bahwa fungsi evaluasi adalah untuk membantu peserta didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kebaikan bila berbuat sebagaimana mestinya, selain itu juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbangkan metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya.[9]) Sementara pendapat lain mengemukakan, evaluasi berfungsi sebagai:[10])
1.         Penilaian formatif yaitu untuk mengetahui kelemahan sistem pengajaran yang diberikan oleh guru atau kelemahan cara belajar yang dilakukan oleh murid, dan dengan pengetahuan itu dapat diperbaiki proses belajar mengajar serta untuk mengadakan program remedial bagi murid.
2.         Penilaian sumatif yaitu untuk mengetahui tingkat kemajuan/hasil belajar murid yang dapat dijadikan bahan laporan kepada orang tua, masyarakat dan pemerintah. Fungsi penilaian seperti dilakukan di atas sangat mempengaruhi, bahkan menentukan guru dalam menetapkan aspek tingkah laku yang dinilai, cara penyusunan soal tes dan cara pengolahan hasil tes.
3.         Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar mengajar/program pendidikan yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan, karakteristik lainnya yang dimiliki murid. Penilaian ini merupakan penilaian penempatan (placement).
4.         Untuk mengenal latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan murid yang mengalami kesulitan belajar. Hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan belajar.   
       Dengan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa evaluasi mempunyai arti penting bagi pelaksanaan pendidikan Islam. Dengan evaluasi maka ada beberapa hal yang dapat diketahui.
1.         Baik atau tidaknya pelaksanaan pendidikan Islam. Jika sudah baik maka perlu ditingkatkan dan jika kurang baik maka perlu perbaikan-perbaiakan.
2.         Berhasil atau tidaknya belajar siswa, apabila sudah berhasil perlu ditingkatkan sistem belajarnya. Jika belum berhasil dapat diketahui dimana letak kekurangannya.


D.      Tujuan Evaluasi
Menurut Abdul Mujib, tujuan evaluasi adalah:[11])
1.    Mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian, dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya.
2.    Mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar ia dapat mengejar kekurangannya.
3.    Mengumpulkan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pengecekan yang sistematis terhadap hasil pendidikan yang telah dicapai untuk kemudian dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
       Secara lebih kongkrit lagi menurut Danuri seperti yang dikutip oleh Uhbiyati mengemukakan tentang tujuan evaluasi adalah sebagai berikut :[12])
1.         Mendapat landasan berpijak meningkatkan tingkah laku anak didik sejauh mungkin. Dengan kata lain lebih menyempurnakan budi pekerti anak sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang sekarang disebut dengan istilah bimbingan.
2.         Untuk mengontrol apakah cara atau metode pendidikan yang kita pergunakan itu sudah tepat atau belum.
3.         Untuk petunjuk memilih alat bimbingan yang lebih sesuai dengan kemampuan anak dan lingkungannya.
4.         Untuk mempertahankan standar (norma) agar norma-norma pendidikan agama tidak makin merosot dan hukum-hukum agama tidak banyak dilanggar.
5.         Untuk menunjukkan kepada anak didik agar dia menyadari taraf kemampuannya dalam beragama. Agar ada dorongan bagi anak senantiasa mengevaluasi dirinya sendiri. Dengan demikian anak belajar menempatkan diri sebaik-baiknya.
       Memang diakui sistem evaluasi sebagaimana dijelaskan di atas baru dilaksanakan oleh pendidikan Islam setelah berkenalan dengan sistem pendidikan modern. Dewasa ini semua ahli pendidikan Islam sepakat bahwa evaluasi mutlak diperlukan dalam pendidikan Islam, sebab tanpa evaluasi tak mungkin dapat diketahui hasil pendidikan yang dilaksanakan, demikian juga tanpa evaluasi tidak mungkin dapat diketahui maju atau mundurnya pendidikan Islam bahkan tanpa evaluasi tidak dapat diketahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam proses penyelenggaraan pendidikan Islam.
        Tujuan evaluasi menurut ajaran Islam, berdasarkan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
1.         Untuk menguji kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialaminya.
2.         Untuk mengetahui sejauh mana hasil pendidikan wahyu yang telah diterapkan Rasulullah SAW, terhadap umatnya.
3.         Untuk menentukan klasifikasi tingkat-tingkat hidup keislaman atau keimanan manusia, sehingga diketahui manusia yang paling mulia disisi Allah, yaitu yang paling bertaqwa kepada-Nya, manusia sedang dalam iman dan ketaqwaannya dan manusia yang ingkar kepada ajaran Islam.

E.     Prinsip Evaluasi
       Dalam pelaksanaan evaluasi ada beberapa prinsip sebagai dasar melakukan penilaian. Menurut A. Tabrani Rusyan seperti yang dikutip oleh Abudin Nata prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :[13])
1.         Prinsip kesinambungan (kontinuitas); penilaian hendaknya dilakukan secara kesinambungan.
2.         Prinsip menyeluruh, maksudnya penilaian harus mengumpulkan data mengenai seluruh aspek kepribadian.
3.         Prinsip objektif, penilaian tidak boleh pilih kasih terhadap murid (subjektif) namun harus rata.
4.         Prinsip sistematis, yaitu penilaian harus dilakukan secara teratur.

F.     Sasaran Evaluasi
Pada umumnya ada tiga sasaran pokok evaluasi, yaitu :[14])
1.         Segi tingkah laku, artinya segi-segi yang menyangkuti sikap, minat, perhatian, keterampilan murid sebagai akiba dari proses belajar mengajar.
2.         Segi pendidikan, artinya penguasaan materi pelajaran yang diberikan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
3.         Segi-segi yang menyangkut proses belajar-mengajar dan mengajar itu sendiri, yaitu bahwa proses belajar mengajar perlu diberi penilaian secara objektif dari guru, sebab baik tidaknya proses belajar mengajar akan menentukan baik tidaknya hasil belajar yang dicapai oleh murid.

G.    Prosedur Evaluasi
       Prosedur dalam melakukan evaluasi dapat dibagi ke dalam beberapa langkah, yaitu :
1.         Perencanaan
Dalam perencanaan dirumuskan tujuan evaluasi yang akan dilaksanakan dalam suatu program pembelajaran yang didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai dalam belajar mengajar.
2.         Pengumpulan data
Langkah-langkah pengumpulan data yaitu dengan pelaksanaan evaluasi, pemeriksaan hasil evaluasi, dan pemberian skor.
3.         Verivikasi data
Pemberian skor artinya bermakna kuantitatif sedang kode bermakna kualitatif.
4.         Analisis data
Hasil dari pengumpulan data masih berupa data mentah, sehingga perlu dianalisis terlebih dahulu agar mendapat gambaran yang jelas.
5.         Penafsiran
Pemberian interpretasi merupakan hasil dari pengolahan data. Interpretasi hasil evaluasi disebut norma, dan norma ini disiapkan terlebih dahulu sebelum evaluasi itu dilakukan










BAB III
KESIMPULAN

       Dari segi bahasa evaluasi berarti penilaian atau penaksiran. Karena itu evaluasi pendidikan Islam berarti penilaian atau penaksiran terhadap pelaksanaan pendidikan Islam untuk diketahui sampai seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan itu dapat dicapai.
       Kedudukan evaluasi dalam belajar dan pembelajaran sungguh sangat penting, dan bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan keseluruhan proses belajar dan pembelajaran. Penting karena dengan evaluasi diketahui apakah belajar dan pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan ataukah belum. Dengan evaluasi juga akan diketahui faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tersebut berhasil dan faktor-faktor apa saja yang menjadikan penyebab belajar dan pembelajaran tidak atau belum berhasil.
       Evaluasi mempunyai arti penting bagi pelaksanaan pendidikan Islam. Dengan evaluasi maka ada beberapa hal yang dapat diketahui. Baik atau tidaknya pelaksanaan pendidikan Islam dan berhasil atau tidaknya belajar siswa, apabila sudah berhasil perlu ditingkatkan sistem belajarnya. Jika belum berhasil dapat diketahui dimana letak kekurangannya.
















DAFTAR PUSTAKA


Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008
Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan, Jakarta : PT Bumi Restu, 1975
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003
M. Chabib Thaha, Tehnik-tehnik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1990
Nur Ubiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2013
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluas


[1]    M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2003), hlm. 162.
[2]    Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1993), hlm 1.
[3]    Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hlm 210.
[4]    Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005),  hlm.183.
[5]    M. Chabib Thaha, Tehnik-tehnik Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo, 1990), hlm .2
[6]    Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahan. (Jakarta : PT Bumi Restu, 1975), hlm.39
[7]    Abuddin Nata, Filsafat pendidikan Islam..., hlm. 186
[8]    M. Chabib Thaha, Tehnik-tehnik.... hlm. 5
[9]    Oemar Hamalik, Pengajaran ..., hlm.212.
[10] Nur Ubiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 2013, hlm. 205
[11] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 211.
[12] Nur Ubiyati, Ilmu Pendidikan Islam.... hlm. 106-107.
[13] Abuddin Nata, Filsafat pendidikan Islam..., hlm. 191-192
[14] Ibid. Hlm.194

Tidak ada komentar:

Posting Komentar