Jumat, 20 Januari 2017

MAKALAH PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sejarah pendidikan Islam pada dasarnya tidak bisa lepas dari sejarah Islam. Kehancuran total yang dialami kota Bagdad dan Granada sebagai pusat-pusat pendidikan dan kebudayaan Islam menimbulkan kekacauan dalam pendidikan Islam, terutama dalam bidang intelektual dan material. Hancurnya Bagdad oleh Mongol memusnahkan lembaga-lembaga pendidikan dan buku-buku ilmu pengetahuan.
Dengan hancurnya pusat-pusat pendidikan Islam khususnya bidang intelektual dan material mengakibatkan rasa lemah dan putus asa di kalangan masyarakat muslim. Hal tersebut menjadikan aliran-aliran tasawuf berkembang pesat dan lebih diminati oleh masyarakat muslim.
Selain faktor-faktor tersebut di atas terdapat juga faktor lain yang lebih mengarah pada situasi sosio politik pada masa itu. Sehingga dengan semakin ditinggalkannya pendidikan intelektual maka semakin statis perkembangan kebudayaan Islam, karena generasi-generasi muda tidak mampu menghasilkan kreasi-kreasi baru bahkan menjawab persoalan-persoalan yang berkembang. Hal ini di perparah juga dengan infansi bangsa Barat ke daerah Islam.
Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai tindakan para pemikir-pemikir Islam untuk mengembalikan kejayaan kebudayaan dan pendidikan Islam dan dikenal dengan masa pembaharuan pendidikan Islam.
B.     Rumusan Masalah
a)         Apa yang dimaksud dengan pembaharuan pendidikan Islam?
b)        Apa yang melatar belakangi lahirnya pembaharuan pendidikan Islam?
c)         Bagaimana pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam?
d)        Siapa saja tokoh-tokoh dalam pembaharuan pendidikan Islam?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pembaharuan Pendidikan Islam
Pembaharuan pendidikan Islam adalah upaya dasar untuk memperbaiki aspek-aspek pendidikan Islam dalam praktek (termasuk pengajaran). Lahirnya modernisasi atau pembaharuan di sebuah tempat akan selalu beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang saat itu. Harun Nasution cenderung menganalogikan istilah “pembaharuan” dengan “modernism”, karena istilah tersebut dalam masyarakat barat mengandung arti pikiran., aliran, gerakan dan usaha mengubah paham-paham istiadat, institusi lama dan lain sebagianya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Dengan demikian, kalau kita kaitkan dengan pembaharuan pendidikan Islam akan memberi pengertian bahwa pembaharuan pendidikan Islam sebagai suatu upaya melakukan proses perubahan kurikulum, cara, metodologi, situasi dan pendidikan Islam dari yang tradisional (ortodox) ke arah yang lebih rasional, dan professional sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat itu.
B.     Latar Belakang Pembaharuan Pendidikan Islam
Timbulnya pembaharuan pendidikan Islam diawali oleh pembaharuan pemikiran Islam yang timbul di Mesir yang dimulai sejak kedatangan Napoleon ke Mesir. Pendidikan oleh Napoleon Bonaparte 1898 M adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat Islam.
Untuk mendapatkan kesadaran tentang kelemahan dan keterbelakangan umat Islam, ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukan akan kelemahan umat Islam, tetapi juga sekaligus menunjukkan kebodohan mereka. Ekspedisi Napoleon tersebut disamping membawa pasukan tentara yang kuat, juga membawa seperangkat peralatan ilmiah untuk mengadakan penelitian di Mesir. Inilah yang membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan keterbelakangannya. Sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan untuk mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan mereka termasuk usaha-usaha di bidang pendidikan.
C.    Pola-pola Pemikiran Pembaharuan Pendidikan Islam
Dengan memperhatikan berbagai macam sebab kelemahan dan kemunduran umat Islam sebagaimana nampak pada masa sebelumnya, dan dengan memperhatikan sebab-sebab kemajuan dan kekuatan yang dialami oleh Bangsa Eropa, maka pada garis besarnya terjadi tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan Islam.

1.             Pola pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada pendidikan modern di Barat.
Mereka berpandangan, pada dasarnya kekuatan dan kesejahteraan yang dialami Barat adalah hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang mereka capai. Golongan ini berpendapat bahwa apa yang dicapai oleh Barat sekarang ini merupakan pengembangan dari ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang pernah berkembang di dunia Islam. Maka untuk mengembalikan kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan itu harus dikuasai kembali. Cara pengembalian itu tidak lain adalah melalui pendidikan, karena pola pendidikan Barat dipandang sukses dan efektif, maka harus meniru pola Barat yang sukses itu. Pembaharuan pendidikan dengan pola Barat, mulai timbul di Turki Utsmani akhir abad ke 11 H / 17 M.
Pada dasarnya, golongan ini berpandangan bahwa pola pendidikan Islam harus meniru pola Barat dan yang dikembangkan oleh Barat, sehingga pendidikan Islam bisa setara dengan pendidikan mereka. Mereka berpandangan bahwa usaha pembaharuan pendidikan Islam adalah dengan jalan mendirikan lembaga pendidikan / sekolah dengan pola pendidikan Barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Jadi intinya, Islam harus meniru Barat agar bisa maju. Tokohnya adalah Sultan Mahmud II dan Muhammad Ali Pasya
2.             Golongan yang berorientasi pada sumber Islam yang murni.
Mereka berpendapat bahwa sesungguhnya Islam itu sendiri merupakan sumber dari kemajuan dan perkembangan peradaban Ilmu Pengetahuan modern. Dalam hal ini Islam telah membuktikannya. Sebab-sebab kelemahan umat Islam meurut mereka adalah karena tidak lagi melaksanakan ajaran Agama Islam sebagaimana mestinya. Ajaran Islam yang sudah tidak murni lagi digunakan untuk sumber kemajuan dan kekuatan. Pola ini dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, dan Muhammad Abduh.
3.             Usaha yang berorientasi kepada Nasionalisme.
Golongan ini melihat di Barat rasa Nasionalisme ini timbul bersamaan dengan berkembangnya pola kehidupan modern sehingga mengalami kemajuan yang menimbulkan kekuatan politik yang berdiri sendiri. Keadaan ini pada umumnya mendorong Bangsa timur dan bangsa terjajah lainnya untuk mengembangkan nasionalisme mereka masing-masing. Yang mendorong berkembangnya nasionalisme adalah karena kenyataannya mereka terdiri dari berbagai bangsa dengan latar belakang dan sejarah perkembangan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
Golongan ini berusaha memperbaiki kehidupan umat Islam dengan memperhatikan situasi dan kondisi objektif umat Islam yang bersangkutan. Dalam usaha mereka bukan semata mengambil unsur-unsur budaya Barat yang sudah maju, tetapi juga mengambil unsur dari budaya warisan bangsa yang bersangkutan. Ide kebangsaan inilah yang akhirnya menimbulkan timbulnya usaha merebut kemerdekaan dan mendirikan pemerintahan sendiri di kalangan pemeluk Islam. Sebagai akibat dari pembaharuan dan kebangkitan kembali pendidikan ini terdapat kecendrungan dualisme sistem pendidikan kebanyakan negara tersebut, yaitu sistem pendidikan modern dan sistem pendidikan tradisional.
D.    Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam
1.      Jamaluddin Al-Afghani (Iran 1838 – Turki 1897)
Ia dilahirkan di Mesir tahun 1839 dan meninggal di Istanbul tahun 1897. Ketika berusia 20 tahun ia telah menjadi pembantu Pangeran Dost Muhammad Khan di Afghanistan. Tahun 1864 ia menjadi penasehat Sher Ali Khan, kemudian ia diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Muhammad A’zam Khan. Dalam hal itu, Inggris telah mulai mencampuri urusan politik Afghanistan dan dalam pergolakan yang terjadi Al-Afghani memilih pihak yang melawan golongan yang disokong Inggris. Pihak pertama kalah, dan Al-Afghan memilih meninggalkan tanah tempat lahirnya dan pergi ke India tahun 1869. Di Inggris ia juga tidak merasa bebas bergerak, karena negara itu telah jatuh ke pihak Inggris, dan ia pindah ke Mesir tahun 1871. Ia menetap di Cairo mulanya menjauhi persoalan politik Mesir dan pemusatkan perhatian pada bidang ilmiah dan sastra Arab. Di tempat ia tinggal kemudian menjadi tempat pertemuan murid-muridnya. Disanalah ia memberikan kuliah dan mengadakan diskusi. Muridnya berasal dari berbagai golongan, seperti orang pemerintahan, pengadilan, dosen dan mahasiswa Al-Azhar serta perguruan tinggi lain.
Dari Mesir ia pergi ke Paris dan di sanalah ia mendirikan perkumpulan Al-Urwatul Al-Wusqa yang anggotanya terdiri dari orang Islam Mesir, India, Suria, Afrika Utara dan lain-lain. Diantara tujuan yang hendak dicapai adalah memperkuat rasa persaudaraan, membela Islam, dan membawa umat Islam kepada kemajuan. Kemudian, pada tahun 1892 ia pergi ke Istanbul atas undangan Sultan Abdul Hamid, namun kemudian ia terjebak dan tidak bisa keluar dari Istanbul karena dijadikan tahanan hingga ia wafat pada tahun 1897.
Pemikiran pembaharuan yang dilakukan Al-Afghani adalah didasari pada pendapatnya bahwa Islam adalah relevan pada setiap zaman, kondisi, dan bangsa. Untuk itu kemunduran umat Islam adalah karena tidak diterapkannya Islam dalam segala segi kehidupan dan meninggalkan ajaran Islam murni. Jalan untuk memperbaiki kemunduran Islam hanyalah dengan membuang segala bentuk pengertian yang bukan berasal dari Islam, dan kembali pada jaran Islam murni.
2.      Rasyid Ridha (Suriah 1865-1935)
Rasyid Ridha adalah murid dari Muhammad Abduh (yang merupakan murid dari Jamaluddin Al-Afghani). Ia lahir pada 1865 Suria. Semasa kecil ia dimasukkan ke sekolah madrasah tradisional, kemudian ia meneruskan sekolah ke Sekolah Nasional Islam. Setelah selesai ia meneruskan ke sekolah agama yang ada di Tripoli, dan banyak belajar dari Al-urawatul Wusqa Jamaluddin dan Muhammad Abduh. Ia banyak belajar dengan Muhammad Abduh ketika Muhammad Abduh sedang dalam buangan di Beirut. Ia mulai mencoba menjalankan ide-ide pembaharuan ketika masih berada di Suria dan mendapat tantangan dari Pihak Turki Utsmani, lalu ia memutuskan pindah ke Mesir dan berada di dekat gurunya Muhammad Abduh pada tahun 1898. Beberapa bulan setelah itu,  ia menerbitkan majalah Al-Manar, yang juga terkenal.
Rasyid Ridha merasa perlu diadakan pembaharuan dibidang pendidikan, dan melihat perlu ditambahkannya kedalam kurikulum mata pelajaran berikut : teologi, pendidikan moral, sosiologi, ilmu bumi, sejarah, ekonomi, ilmu hitung, kesehatan, bahasa asing,disamping fiqih, tafsir, hadist dan lain-lain.
3.      Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873- 1938)
Muhammad Iqbal berasal dari keluarga golongan menengah di Punjab dan lahir di Sialkot tahun 1867. Untuk meneruskan studi ia kemudian pergi ke Lahore dan belajar disana sampai memperoleh gelar kesarjaan MA. Di tahu 1905 ia pergi ke negara Inggris dan belajar filsafat di Universitas Cambridge. Dua tahun kemudian ia pindah ke Munich Jerman, dan memperoleh gelar Ph.D dalam bidang tasawwuf.
Sir Muhammad Iqbal yang merupakan salah seorang muslim pertama di anak benua India yang sempat mendalami pemikiran barat modern dan mempunyai latar belakang pendidikan yang bercorak tradisional Islam. Kedua hal ini muncul dari karya utamanya di tahun 1930 yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Pembangunan Kembali Pemikiran Keagamaan dalam Islam). Melalui penggunaan istilah reconstruction ia mengungkapkan kembali pemikiran keagamaan Islam dalam bahasa modern untuk dikonsumsi generasi baru muslim yang telah berkenalan dengan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan dan filsafat barat abad ke-20
Sama dengan pembaharu lainnya, ia berpendapat bahwa kemunduran umat Islam selama 500 tahun dikarenakan kebekuan dalam pemikiran. Hukum dalam Islam telah sampai pada keadaan statis. Untuk memperbaharui Islam di segala bidang (termasuk pendidikan), maka diperlukan sebuah institusi penegak Hukum Islam yang menaungi seluruh umat Islam dalam sebuah naungan negara yang dinamakan Khilafah Islamiyah.)
4.      Sir Sayid Ahmad Khan (India 1817-1898)
Sir Sayid Ahmad Khan adalah pemikir yang menyerukan saintifikasi masyarakat muslim. Seperti halnya Al Afgani, ia menyerukan kaum muslim untuk meraih ilmu pengetahuan modern. Akan tetapi, berbeda dengan Al Afgani ia melihat adanya kekuatan yang membebaskan dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Kekuatan pembebas itu antara lain meliputi penjelasan mengenai suatu peristiwa dengan sebab-sebabnya yang bersifat fisik materiil. Di barat, nilai-nilai ini telah membebaskan orang dari tahayuldan cengkeraman kekuasaan gereja. Kini, dengan semangat yang sama, Ahmad Khan merasa wajib membebaskan kaum muslim dengan melenyapkan unsur yang tidak ilmiah dari pemahaman terhadap Al Qur’an. Ia amat serius dengan upayanya ini antara lain dengan menciptakan sendiri metode baru penafsiran Al Qur’an. Hasilnya adalah teologi yang memiliki karakter atau sifat ilmiah dalam tafsir Al Qur’an
5.      Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
Toha husein adalah seorang sejarawan dan filsuf yang amat mendukung gagasan Muhammad Ali Pasya. Ia merupakan pendukung modernisme yang gigih. Pengadopsian terhadap ilmu pengetahuan modern tidak hanya penting dari sudut nilai praktis (kegunan)nya saja, tetapi juga sebagai perwujudan suatu kebudayaan yang amat tinggi. Pandangannya dianggap sekularis karena mengunggulkan ilmu pengetahuan.
6.      Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi.
Al-Qardawi menekankan perbedaan modernisasi dan pembaratan. Jika modernisasi yang dimaksud bukan berarti upaya pembaratan dan memiliki batasan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan modern serta penerapan tekhnologinya, Islam tidak menolaknya bahkan mendukungnya. Pandangan Al-Qardawi ini cukup mewakili pandangan mayoritas kaum muslimin. Secara umum, dunia Islam relatif terbuka untuk menerima ilmu pengetahuan dan tekhnologi sejauh memperhitungkan manfaat praktisnya. Pandangan ini kelak terbukti dan tetap bertahan hingga kini di kalangan muslim. Akan tetapi, dikalangan pemikir yang mempelajari sejarah dan filsafat ilmu pengetahuan, gagasan seperti ini tidak cukup memuaskan mereka.
7.      Muhammad Ali Pasha(1765-1849)
Muhammad Ali Pasha adalah seorang keturunan Turki dari etnis albania yang lahir di Kawalla, sebuah kota pelabuhan di kota Macedonia yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Yunani, pada tahun 1765, dan meninggal di Mesir pada tahun 1849.
Perlu di ketahui bahwasanya nama “Pasha” merupakan sebuah sebutan pangkat mulia di turki usmani yang di sandang M. Ali ini mulai disematkan kenamabelakangnya ketika beliau sudah berkuasa di Mesir.
Semenjak dewasa beliau ditinggal mati oleh ayahnya, Ibrahim Aga (seorang komandan militer lokal), Muhammad Ali Pasha sempat bekerja sebagai pemungut pajak dan juga pedagang tembakau. Karena beliau rajin dalam pekerjaannya jadilah beliau disenangi Gubernur dan akhirnya menjadi menantu Gubernur. Setelah menikah,beliau diterima menjadi anggota militer, karena keberanian dan kecakapan menjalankan tugas, beliau diangkat menjadi Perwira
Salah satu bidang yang menjadi sentral pembaruannya  adalah bidang-bidang militer dan bidang-bidang yang bersangkutan dengan bidang militer, termasuk pendidikan. Kemajuan di bidang ini tidak mungkin dicapai tanpa dukungan ilmu pengetahuan modern. Atas dasar inilah sehingga perhatian di bidang pendidikan mendapat prioritas utama.
Sungguhpun Muhammad Ali Pasya tidak pandai baca tulis, tetapi ia memahami betapa pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk kemajuan suatu negara. Ini terbukti dengan dibentuknya Kementerian Pendidikan untuk pertama kalinya di Mesir, dibuka sekolah militer (1815), sekolah teknik (1816), sekolah ketabibaban (1836), dan sekolah penerjemahan (1836).
Berlanjut ke bidang pendidikan, cara modernisasi yang beliau lakukan adalah dengan menerjemahkan buju-buku terbitan Eropa dalam skala yang besar. Menurut catatan sejarah beliau mengirim 311 pelajar Mesir ke Italia, Perancis, Inggris dan Austria dengan mengambil disiplin keilmuan yang beragam seperti kemiliteran, ilmu administrasi, arsitek, kedokteran dan obat-obatan. Di samping mendelegasikan pelajar Mesir ke Eropa beliau juga mendatangkan guru-guru agung Eropa untuk mengajar di sekolah-sekolah yang telah beliau bangun, misalnya Sekolah Militer (1815), Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1927), Farmasi (1829). Muhammad Ali juga menerbitkan majalah berbahasa Arab pertama kalinya yang diterbitkan tahun 1828 M, beliau menamainya dengan majalah ” al-Waqa’i al-Mishriyah” (Berita Mesir). Majalah ini digunakan rezim Muhammad Ali sebagai organ resmi pemerintah.



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
·         Pembaharuan pendidikan Islam adalah upaya dasar untuk memperbaiki aspek-aspek pendidikan Islam dalam praktek (termasuk pengajaran).
·         Pembaharuan pendidikan Islam diawali oleh pembaharuan pemikiran Islam yang timbul di Mesir yang dimulai sejak kedatangan Napoleon ke Mesir. Pendidikan oleh Napoleon Bonaparte 1898 M adalah merupakan tonggak sejarah bagi umat Islam.
·         Pendidikan Islam mengalami fase kebangkitan kembali yang dinamakan fase pembaharuan. Pada fase ini pendidikan Islam mulai naik dengan beberapa tokoh yang menjadi pelopor. Kebangkitan kembali umat Islam khususnya bidang pendidikan adalah dalm rangka untuk pemurnian kembali ajaran-ajaran Islam dengan pelopor di berbagai daerah seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Pembaharuan di Turki, dan Muhammad Iqbal di India. 
·         Adapun mereka mengemukakan tema kebangkitan pendidikan Islam tersebut, tentunya dengan opini / ide dasar-dasar yang kurang lebihnya yaitu :
a.       Mengembalikan ajaran Islam kepada unsur aslinya, dengan bersumberkan Al-Qur’an dan Hadist, dan membuang segala bid’ah, khurafat, tahayul dan mistik.
b.      Menyatakan dan membuka kembali pintu ijtihad.
c.       Menyatukan kembali perpecahan atas terpuruknya bidang pendidikan Islam
·         Terjadinya tiga pola pembaharuan pemikiran pendidikan Islam,  yaitu :
a.       Pola pembaharuan yang berorientasi pada pola pendidikan Barat.
b.      Golongan yang berorientasi pada sumber Islam yang murni.
c.       Usaha yang berorientasi pada Nasionalisme.
·         Tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan Islam diantaranya adalah :
a.       Jamaluddin Al-Afghani (Iran 1838 – Turki 1897)
b.      Rasyid Ridha (Suriah 1865-1935)
c.       Sir Muhammad Iqbal (Punjab 1873- 1938)
d.      Sir Sayid Ahmad Khan (India 1817-1898)
e.       Toha Husein (Mesir Selatan 1889-1973)
f.       Sayid Qutub (Mesir 1906-1966) dan Yusuf Al Qardawi.
g.      Muhammad Ali Pasha(Mesir 1765-1849)
B.     Saran
a.       Hanya dengan cara dan metode tertentu pengetahuan dapat diperoleh
b.      Ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak berguna bila tidak dibagi atau diberikan kepada orang lain
c.       Ilmu pengetahuan yang ada harus dimanfaatkan
d.      Sebagai pembaca yang budiman kami meminta saran dan kritikkannya agar makalah kami berikutnya dapat bermanfaat















DAFTAR PUSTAKA
Asrahah, Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. LOGOS Wacana Ilmu.
Zuhairini, dkk. 2006. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Nata, Abudin. 2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media Group
Sumber lain :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar